Pledoi Si Perindu Petasan

stockvault-glass-chess137890.jpg
Sumber gambar: Stockvault

Petang itu, langit belum runtuh. Tinggal dua hari sebelum Ramadhan tiba. Sambil berhadapan dengan layar televisi yang nyalanya mulai redup, Mahmud duduk di atas kursi kesayangannya dengan pandangan mata menerawang.

***

Masih segar dalam ingatan pria kurus itu manakala pada penghujung Ramadhan belasan tahun sebelumnya, pihak kepolisian setempat mengeluarkan maklumat yang melarang siapapun menyembunyikan petasan atau bahan peledak ringan jenis apapun. Di lingkup negara, pengawasan terhadap petasan bahkan diatur dalam berbagai kitab perundang-undangan yang jauh lebih kompleks.

Bagi Mahmud, apa yang dilakukan negara dengan mengawasi penggunaan bahan peledak—termasuk penggunaan benda seremeh petasan sekalipun—adalah hal yang mafhum. Negara adalah ibu bagi rakyat-rakyatnya, dan oleh karena itu, mengutip sabda istri salah seorang mantan presiden di negara adidaya, ‘Every mother should works hard’.

Sudah merupakan sifat alamiah jika negara sebagai ibu mesti melindungi dan mengawasi anak-anaknya dalam berinteraksi dengan hal yang berpotensi membahayakan. Namun, sudah sifat alamiah pula bahwa terkadang seorang anak justru menggemari sesuatu yang nakal dan membahayakan.

Mahmud contohnya. Bagi masa kecil lelaki paruh baya tersebut, petasan adalah pelengkap menu salat tarawih dan subuh di bulan Ramadhan. Menggunakan uang saku sehari-hari untuk membeli petasan di bulan Ramadhan adalah suatu hal yang tak dapat dinihilkan dari masa kecil Mahmud dan teman-teman sebayanya di desa.

Memiliki nenek yang punya riwayat penyakit jantung memang sempat membuat Si Mahmud Kecil tunduk pada perintah sang ibu untuk tidak main petasan di kawasan kampungnya. Namun, toh kala itu ia dan teman-temannya yang lain tetap melakukan aksi ‘lempar mercon’ di kampung tetangga.

Satu hal yang unik adalah fakta bahwa masjid selalu menjadi titik kumpul para anak-anak desa—termasuk Mahmud kecil—sebelum melangsungkan rutinitas main petasan bareng.

Setiap sore, Mahmud kecil selalu berangkat ngaji di masjid dengan harapan agar pada petang hari sebelum tarawih ia dapat bermain petasan dengan kawan-kawan sebayanya. Kerajinan itu berbuah manis manakala pada akhir Ramadhan ia menjuarai lomba baca tulis Alquran tingkat kabupaten.

Petasan pula yang membuat Mahmud selalu rajin berangkat salat subuh. Pada bulan Ramadhan, tak seharipun ia melewatkan rutinitas salat subuh berjamaah di masjid. Semua semata-mata dilakukannya agar dapat berkumpul dan main petasan berjamaah bersama teman-temannya.

Sampai pada titik tersebut, Mahmud kini menyadari bahwa secara tidak langsung petasan adalah salah satu hal yang membentuk dirinya hingga seperti sekarang ini. Bagi Mahmud kecil, guru-guru ngaji mudanya—yang ternyata diam-diam juga gemar main petasan—selalu membosankan tiap kali mengajarkan materi baca tulis Alquran. Tanpa hasrat bermain petasan, barangkali saat itu Mahmud tak akan bertahan rutin untuk ngaji di masjid setiap sorenya.

***

Tiba-tiba saja terdengar kumandang adzan Isya.

Kini, Mahmud telah sadar dari lamunannya yang sejenak itu. Dalam sepersekian detik, ia melompat dari bayangan kehidupan masa kecilnya untuk menuju ke dunianya yang sekarang. Didapatinya layar televisi masih menyala. Samar-samar muncul suara narasi acara berita petang dari salah satu stasiun televisi lokal. “Pelajar SD Tewas Gara-Gara Meniru Adegan Kekerasan dari Internet,” kurang lebih seperti itu judul berita yang sedang ditayangkan.

Sadar karena suara adzan Isya sudah memanggil, Mahmud memutuskan untuk segera mematikan nyala layar televisi di hadapannya. Sambil menekan tombol power pada remot televisi, dalam hati Mahmud membatin, “Andai saja mereka lebih menyukai petasan ketimbang gawai.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s