Sebuah Usaha Menulis ‘Kehilangan’

missing-a-piece-to-my-puzzle-1532155
Sumber gambar: SXC

Bukankah setiap orang pernah mengalami kehilangan?

Aku pernah mendapati kakak perempuanku mondar-mandir mencari seutas ikat rambut yang berkali-kali sempat menggulung rapi rambutnya. Pernah pula kukenali sesosok ibu yang wira-wiri mencari sandal di deretan rak sebuah toko sepatu. Untuk contoh terakhir, aku sempat beradu pendapat dengan seorang teman.

“Ia hanya seorang calon pembeli. Bukankah jelas-jelas si ibu memang belum punya hak milik terhadap satupun sandal di rak-rak itu? Yang dialami ibu itu bukan kehilangan. Kehilangan baru bisa disebut kehilangan apabila benda yang dimaksud memang sudah sah dimiliki,” kelakarnya dengan nada mengguruiku.

Aku tak melanjutkan perdebatan dengannya. Pendapat temanku itu memang bukan hal yang salah, setidaknya untuk anggapan manusia normal. Seseorang pada umumnya hanya akan merasa kehilangan apabila hal yang hilang tersebut adalah sesuatu yang ia miliki.

Aku sempat merasa setuju dengan argumen temanku. Faktanya, ketika dompet salah seorang temanku yang lain hilang, aku sama sekali tidak merasa kehilangan dompet tersebut. Tentu ada semacam perasaan ‘turut berduka’ atas kejadian yang menimpa kawanku itu. Namun, dapat kupastikan bahwa rasa ‘turut berduka’ yang kualami tidak sama dengan rasa kehilangan.

Waktu berjalan cepat.

Beberapa hari yang lalu, aku merasakan semacam dorongan untuk meragukan argumen temanku tentang definisi kehilangan. Dan tentu saja, dorongan itu kurasakan karena belakangan untuk pertama kalinya aku mengalami perasaan ‘serupa kehilangan’ terhadap sesuatu yang kurasa bukan milikku.

Ia adalah perempuan ketiga yang pernah mendampingiku. Aku tak pernah sekalipun berhenti mengaguminya. Setiap pagi, setelah sembahyang, selalu kupandangi selembar potret wajahnya yang terbingkai rapi di salah satu sudut kamarku.

Ah, tidak. Ini bukan berarti aku mengagumi wajahnya saja. Ritual memandangi ini hanya semacam usahaku untuk mendoakan pertemuan kami yang seringkali berlangsung di siang hingga sore hari. Bukankah untuk mendoakan seseorang kita harus mengingat wajahnya terlebih dahulu?

Mungkin ada satu dua hari aku terlewat tidak melakukan ritual tersebut karena beberapa hal. Tapi, aku suka mendoakannya di pagi hari. Gandhi bilang, doa di pagi hari adalah sebuah kunci pembuka kejadian baik. Oleh karena itu, aku selalu merasa bahwa doa akan menguatkan hubungan kami dari hari ke hari.

Sampai di sini, harus kukatakan bahwa dia telah memilikiku. Sekurang-kurangnya, aku merasa bahwa diriku memang sudah ia miliki.

Beberapa jam lalu kami bertengkar hebat. Dan… ia berkata bahwa dirinya merasa mulai kehilangan diriku. Ia telah memilikiku sepenuhnya. Dan oleh sebab itu, ia bebas merasa kehilangan sesuatu yang sudah miliknya, yang dalam hal ini adalah aku.

Namun, apakah aku boleh merasa kehilangan dia? Selama beberapa tahun mengenalnya aku bahkan belum sekalipun merasa ‘sudah memilikinya’.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s