Essien dan Senyum Sepak Bola Indonesia yang Mulai Merekah

“Gething Nyanding, Sengit Ndulit.” Sebuah peribahasa jawa yang maknanya kurang lebih benci tapi bersanding di sampingnya, atau bilang benci (sengit) tapi mencolek (ndulit).

Agaknya memang benar bahwa cinta dan benci itu beda tipis. Seseorang cenderung akan memikirkan seseorang yang dibenci atau dicintanya dengan energi yang hampir sama. Bisa juga tiba-tiba menyebrang dari cinta ke benci ataupun sebaliknya. Dan boleh jadi pula, hal itu yang sedang berlangsung dalam hubungan antara saya dan Michael Essien.

Essien adalah salah satu nama yang cukup berkesan dalam hidup saya. Bukan karena sekedar membuat saya kagum dengan berbagai torehannya di panggung sepak bola Eropa, tetapi juga karena besarnya sumbangsih yang ia berikan untuk salah satu klub yang tidak saya sukai, Chelsea.

Di era itu, lini tengah Chelsea memang bukan semata disokong performa mengkilap si mutiara Ghana. Pasukan Abramovic punya berbagai amunisi di lini tengah mereka yang tak kalah ciamik, mulai dari Michael Ballack hingga sang legenda, Frank Lampard. Namun—kendatipun Essien bukan merupakan wajah Chelsea—Chelsea adalah satu-satunya wajah Essien. Mengingat nama Michael Essien adalah mengingat periode serta tanda jasanya sebagai jangkar lini tengah Chelsea. Orang boleh mengingat masa muda sang Gelandang Ghana di Lyon, periode peminjaman dua musim di Galacticos-nya Mourinho, atau titik redupnya beberapa musim lalu ketika melabuhkan diri ke sisi merah kota Milan. Namun, tetap saja, Essien adalah Chelsea. Ia adalah salah satu pelari penting yang memegang estafet peralihan identitas si Biru dari tim semenjana menjadi tim kelas bintang Eropa.

Chelsea's Essien scores against Barcelona during their Champions League soccer match in London
Sepakan berbuah gol Michael Essien ketika berhadapan melawan Barcelona pada semifinal Liga Champions 2008-2009 (Sumber gambar: dailymail.co.uk).

Saya masih ingat satu golnya ke gawang Barcelona pada semifinal Liga Champions 2009. Gol tersebut memang tak berbicara banyak mengingat kemudian Barcelona berhasil menyamakan kedudukan dan menggagalkan langkah Chelsea lolos ke final di Olimpico (secara agregat). Namun, tetap saja gol tersebut adalah sebuah mahakarya. Mahakarya yang sempat melambungkan nama klub semenjana Chelsea untuk memposisikan kelas sosialnya di atas Barcelona, meski hanya untuk beberapa menit.

Pada saat itu, manusia manapun tentu akan merasa canggung tatkala melihat tim sekelas Chelsea berada di atas angin ketika sedang berhadapan dengan Barcelona, tim yang punya tradisi kokoh dengan La Masia-nya. Dan Essien lah yang melakukannya. Memanfaatkan bola pantulan hasil tendangan Lampard, sapuan volley kaki kirinya tanpa ampun menghujam jala Victor Valdes dari luar kotak penalti. Gol akrobatiknya tersebut berhasil membuat Iniesta dan Xavi bergidik sambil menggelengkan kepala untuk meratapi kegagalan masing-masing.

8b7aee8e-3017-4490-b3f3-1db628e4c416_169
Michael Essien sedang diperkenalkan kepada fans oleh manajemen Persib Bandung. (Sumber gambar: CNN Indonesia).

Pada Selasa kemarin, delapan tahun setelah gol Essien ke gawang Barca di semifinal Liga Champions, si mutiara Ghana membuat sebuah keputusan besar. Di usianya yang sudah tidak muda lagi (34)—usia yang seharusnya bisa ia gunakan untuk beristirahat—ia justru memutuskan untuk melanjutkan karirnya di Indonesia, negeri yang antah berantah dalam hal percaturan sepak bola.

Saya bukan penggemar Persib. Akan tetapi, sebagai warga Indonesia, tentu saya tidak bisa untuk tidak menyambut kabar ini dengan gembira. Persib, sebuah klub besar yang pencapaiannya tidak terlalu mentereng—bahkan di kancah domestik—memutuskan memboyong Essien dengan rumor banderol 8,5 milliar. Nominal tersebut mungkin bukan apa-apa bagi sepakbola Eropa. Namun, untuk standar domestik di Indonesia, nilai transfer tersebut jelas sangat tendensius. Dari besaran tersebut, penggemar sepakbola bodoh manapun pasti bisa menyimpulkan satu gagasan: bahwa Persib mempertatuhkan banyak hal. Persib membeli sebuah nama besar, membeli sebuah sejarah baru di saat klub-klub pesaingnya sedang berlomba-lomba menciptakan amunisi-amunisi muda hebat dengan jalan pembinaan.

Apakah Persib salah?

Tidak. Mereka hanya sedang menciptakan tren baru, cara baru mendongkrak popularitas dan prestasi di waktu bersamaan.

Apakah Essien salah?

Tidak. Ia hanya membuktikan bahwa dirinya juga manusia yang bisa membuat keputusan-keputusan  penting untuk hidupnya.

Lalu, pelajaran apa yang bisa kita petik dari transfer Essien ke Persib?

Satu hal yang saya tangkap adalah: sebuah senyum. Sepak bola Indonesia dalam rentang satu dekade terakhir sedang dalam tingkat kemuraman yang semuram-muramnya. Mulai dari korupsi, politisasi, penyelewengan, terbengkalainya finansial para pemain, pengaturan skor, hingga dualisme kompetisi—semua datang berturur-turut, tanpa ampun memporak-porandakan gairah sepakbola dalam negeri.

Dan datangnya Essien seolah menjadi suntikan daya tarik baru. Boleh jadi Essien sudah tak setangguh dulu lagi, mengingat faktor usia yang tentu menurutkan performanya.. Tapi, satu hal yang pasti adalah: bahwa pesona itu masih ada dalam diri Essien. Pesona ketika sepakannya menghajar tembok pertahanan Barcelona, dan tentu saja pesona tatkala ia berlari membawa tongkat estafet peralihan era Chelsea. Essien jelas akan menularkan dampak baru bagi orang-orang yang akan bermain satu lapangan dengannya sepanjang satu musim kompetisi ke depan. Dan memang itu yang kita harapkan dari dirinya.

Harus diakui, dalam diri kita akan selalu timbul hasrat untuk dapat melihat kembali geliat riuh persepakbolaan dalam negeri, dan terakhir… harus kita akui pula—bahwa sekecil apapun itu—dalam hati saya atau fans Arsenal lain di dalam negeri, pasti ada perasaan berharap bahwa kedatangan Essien kali ini akan menjadi sebuah titik penentu agar gairah sepakbola Indonesia bisa kembali seperti dulu lagi.

Selamat datang di Indonesia, Michael Essien.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s