Anekdot Totti dalam Diri Nambi

21c6c28e0336c469593c8db4e9918db5
sumber gambar: Fox Sports

Saya baru saja selesai membaca cerpen karya R.K Narayan yang teramat sangat bagus, ketika beberapa menit kemudian saya memutuskan untuk membuat tulisan ini. Cerita berjudul Under The Banyan Tree yang pernah dimuat dalam antologi Under The Banyan Tree and Other Stories pada 1985 ini menceritakan seorang tokoh protagonis bernama Nambi. Dikisahkan ia adalah seorang lelaki pendongeng berusia sekitar 60 tahun yang tinggal di sebuah kuil kecil. Meski terbilang miskin, Nambi merupakan sosok terkenal dan disegani karena kemahirannya dalam mengarang cerita dan mendongengkannya kepada para penduduk di kampungnya, desa Somal.

Kemampuan Nambi dalam mengarang dan mendongeng memang hebat bukan main. Dengan dongengnya, Nambi bahkan mampu membuat para penduduk Somal tidak mempedulikan berbagai kondisi memprihatinkan di lingkungan mereka. Meski sumber air di desa tersebut dipenuhi bibit-bibit penyakit dan kondisi parit di sepanjang desa sangat menjijikkan, warga Somal tetap merasa diri mereka hidup dalam pesona yang indah. Hampir setiap malam para penduduk Somal berbondong-bondong berkumpul di depan kuil tempat Nambi tinggal. Di halaman kuil tersebut, terdapat sebuah pohon banyan (pohon beringin) besar. Di bawah pohon itulah biasanya ratusan warga bertumpah ruah, menggerombol jadi satu untuk mendengarkan narasi-narasi emas gubahan Nambi.

Sampai pada suatu saat, Nambi yang semakin tua sedikit demi sedikit kehilangan daya ingatnya. Dalam beberapa malam Nambi kesulitan menyampaikan cerita karangannya. Ingatan yang mulai kabur membuat alur cerita dongeng rekaannya  sering terputus di tengah-tengah. Nambi semakin dilanda kegusaran tatkala menyadari kondisinya yang buta huruf sehingga tidak bisa mencatat setiap ceritanya agar tidak mudah terlupakan. Pria itu kemudian frustasi dan sempat selama beberapa hari menghentikan rutinitas mendongeng rutin.

Kemudian, Nambi memutuskan untuk mengakhiri pesonanya. Di hadapan para warga desa, ia bersumpah untuk diam dan tidak berbicara sepatah kata pun hingga ajal menjemput. Nambi pun menghabiskan sisa hidupnya dengan cara diam. Ia mati dalam kesunyian, tanpa sepatah kata wasiat pun.

Akhir cerita Under The Banyan Tree memang tidak klimaks dan membuat setiap orang gembira. Namun, di luar konteks penggunaan diksi dalam cerpen yang sangat indah, Narayan—melalui tokoh fiksi Nambi—menutup Under The Banyan Tree dengan sangat melankolis dan indah. Kisah yang tidak terlalu panjang, namun tidak kelewat singkat. Sangat pas.

hi-res-8e03b9b04f03627c1e7b27b375976c6f_crop_north
sumber gambar: Bleacher Report

Kisah Nambi dalam Under The Banyan Tree tersebut kemudian membawa diri saya untuk sekali lagi meperhatikan sosok Francesco Totti. Menurut saya, ada sebagian ironi dalam diri Nambi yang juga terpatri dalam sosok gagah sang pangeran Roma. Seperti Nambi di Somal, Totti adalah pendongeng yang selalu menghujani kehausan para romanisti lewat pesona gol demi gol yang ia cetak. Keduanya—baik Nambi maupun Totti—juga sama-sama punya rumah yang indah. Jika Nambi punya kuil sederhana yang diteduhi pohon beringin, Totti punya Stadio Olimpico yang nyaris tak pernah ia tinggalkan sejengkal pun sepanjang karirnya. Persamaan lain antara Totti dan Nambi adalah dari segi usia yang mulai menua. Faktor usia perlahan sama-sama menggerogoti pesona keduanya. Totti memang striker hebat, namun faktor usia membuatnya tak setajam dan selincah dulu lagi. Harus kita akui bahwa usia juga sangat berpengaruh terhadap ketajaman Totti ketika berhadapan dengan bek dan kiper tim lawan.  Hal ini juga dapat kita pahami jika menengok torehan gol dan menit bermain Totti yang terus menurun dari musim ke musim.

Lantas, hikmah apa yang dapat dipetik Totti dari sosok Nambi?

Satu hal yang patut diapresiasi dari nambi adalah: Ia tahu kapan saatnya ia harus berhenti. Agaknya, dalam alam bawah sadarnya Nambi sadar kepikunannya merupakan hal yang tidak bersahabat. Ia memilih mundur agar tidak berakhir lebih nestapa. Kisah “Under The Banyan Tree” tidak akan bisa berakhir seindah itu seandainya Nambi tetap memaksakan diri untuk melanjutkan mendongeng. Jika Nambi tetap memaksa mendongeng, kemungkinan terbesarnya adalah ia akan menghancurkan reputasi diri sendiri. Kepikunan, sudah pasti akan menurunkan kualitas dongeng yang ia karang. Pun dengan Totti, di mana faktor usia memang telah banyak menurunkan performanya di lapangan. Ia sekarang bahkan sudah tidak lagi menjadi penyerang pilihan utama Luciano Spalleti. Sang pangeran mulai lebih sering menjadi penghangat bangku cadangan. Agaknya merupakan hal yang wajar jika saya berpendapat semakin Totti menunda kepensiunannya dari Roma, akan semakin berakhir nestapa pula karirnya. Ia bisa saja mengumumkan kepensiunannya di akhir musim nanti, kemudian mengakhiri 25 tahun pegabdian setianya pada AS Roma dengan manis.

Namun, apakah Totti akan melakukannya? Apakah Totti akan mengakhiri pengabdiannya untuk Roma sebagaimana Nambi mengakhiri pengabdiannya untuk penduduk Somal?

Entahlah.

Jawaban atas pertanyaan besar itu tentu saja hanya Tuhan dan Totti yang tahu. Sampai saat saya menulis huruf-huruf ini, belum ada kepastian bakal pensiun atau tidaknya Totti di akhir musim nanti. Sang Pangeran pun belum memberi pernyataan secara resmi.

Di mata saya, 250 gol yang sekaligus menjadi bukti pengabdian tak berujungnya pada Roma adalah sesuatu yang tak bisa dibayar dengan apapun. Sebagaimana kebanyakan penggemar sepakbola lainnya, saya pun berpendapat bahwa Totti adalah contoh pesepakbola paling loyal sepanjang masa. Namun, terlepas dari pengabdian, pencapaian, dan loyalitasnya, ada baiknya kisah Nambi dapat menjadi pertimbangan bagi Totti untuk memilih bagaimana ia akan mengakhiri karirnya.

Tulisan ini jelas tidak akan mungkin dibaca oleh Totti. Namun, masih ada kemungkinan bagi Totti untuk bisa belajar dari kisah hidup Nambi. Semoga takdir akan segera membawanya membaca cerpen itu, Karena saya yakin ia belum pernah membacanya.

Panjang umur, Francesco Totti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s