Masih Belum Bisa Melupakan Riquelme

20080422_5124
(sumber gambar: elultimodiezjr)

Sampai hari ini, agaknya publik masih menjadikan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo—dua manusia setengah dewa dari negeri tango dan Madeira—sebagai pusat perhatian di jagat si kulit bundar. “Keduanya bak makhluk dari luar planet bumi,” begitu ucap para pandit hampir di setiap pemberitaan. Surealisme sepakbola yang ditawarkan keduanya merupakan penyebab utama vonis itu dijatuhkan. Liukan Messi yang meyerupai tari-tarian anemon laut memang acap kali membuat setiap orang menggelengkan kepala dengan kagum. Gerak-gerik Ronaldo yang khas dan kompleks membuat kita—barang kali selama sepersekian detik—beranggapan bahwa tak sembarang orang dapat memainkan sepakbola. Sampai pada titik ini, agaknya kita harus sepakat, bahwa keduanya—baik Messi maupun Ronaldo—merupakan dua sosok terdepan (di era sepak bola sekarang) yang mampu menaikkan derajat keningratan sepakbola.

Lantas, bagaimana jika premis-premis dari pernyataan di atas kita balik? Apakah keindahan sepakbola hanya dapat ditunjukkan oleh gaya dan skill bermain individu di atas rata-rata? Apakah keindahan sepak bola hanya berhak diidentikkan dengan gerakan-gerakan surealis seperti yang sering dipertontonkan Messi dan Ronaldo?

Menyanggah jawaban “ya”  untuk sekelumit pertanyaan di atas memang hal yang sukar. Nyatanya dunia memang selalu berpihak pada pemain-pemain sepakbola bemagnet gerakan magis. Mulai dari Pele, Maradona, hingga era Ronaldo dan Messi, borjuisme sepakbola selalu identik dengan karakter-karakter surealis. Namun, bagi anda sekalian yang ingin menjawab ”tidak,” saya akan menawarkan satu pembelaan yang bisa memukul telak pendapat orang-orang di sebrang anda.

Pembelaan yang saya maksud berwujud sesosok manusia biasa, pemain sepakbola normal bernama Juan Roman Riquelme. Bagi sebagian penikmat sepak bola awal periode 2000an, tentu nama tersebut tidaklah asing. Seperti halnya Lionel Messi, Juan Roman Riquelme merupakan pria yang juga lahir pada tanggal 24 Juni di bawah rasi bintang Cancer. Seperti Messi pula, Riquelme merupakan pemain sepak bola yang pernah mengenakan nomor punggung 10 di Barcelona maupun timnas Argentina. Bahkan, keduanya juga sama-sama memegang ban kapten tim tango pada era mereka masing-masing. Bedanya, Messi adalah alien sementara Riquelme justru merupakan manusia biasa.

juan-roman-riquelme
(sumber gambar: mediotiempo)

Saya melabeli Riquelme dengan sebutan ‘manusia biasa’ bukannya tanpa sebab. Tanpa pula bermaksud menganggap remeh berbagai pencapaian dan prestasinya, label tersebut lebih bertujuan untuk mengesankan sosok Riquelme yang ‘sangat biasa’.

Kemampuan dan talenta menggocek bola Riquelme memang di atas rata-rata, namun yang membuat pria kelahiran 1978 ini terlihat sangat biasa adalah cara kakinya memperlakukan bola. Riquelme bukan tipikal pemain yang suka berlama-lama memamerkan gerakan non-logis seperti halnya yang sering dilakukan Messi dan Ronaldo, meski sebenarnya pria kelahiran Buenos Aires tersebut bisa melakukannya. Pemain yang pernah membela Argetinos Junior, Barcelona, Villareal, dan Boca Juniors ini lebih sering melakukan satu dua sentuhan kecil, berlari-lari ringan ke sisi yang strategis, kemudian menciptakan lubang di pertahanan lawan.

Jika Messi dan Ronaldo bisa membuat orang beranggapan bahwa sepakbola bukan merupakan olahraga yang bisa dimainkan sembarang orang, yang dilakukan Riquelme justru sebaliknya. Riquelme tidak mengangkat derajat keningratan sepakbola, ia justru menenggelamkannya dengan lembut agar dapat dinikmati oleh makhluk dari kasta manapun. Ketika melihat caranya memainkan sepakbola yang biasa namun tetap menawan, penonton akan merasakan bahwa sepak bola merupakan olah raga yang siapapun berhak memainkan dan bahagia karenanya.

Hal di atas pula yang kemudian membuat saya—secara personal—lebih mengagumi sosok Riquelme ketimbang Messi dan Ronaldo, meski dari pencapaian gelar individu maupun klub sangat jelas bahwa Riquelme berada di bawah keduanya.

(sumber gambar: getty)
(sumber gambar: getty)

“The football has given me Everything. Just like little girls love dolls, the best toy I’ve ever had, or could ever have, is a football. The person who invented it is a true hero, nobody can top that.”

Kurang lebih begitulah roman singkat yang diucapkan Riquelme kepada para penggemarnya dua tahun lalu selepas menyatakan pensiun dari dunia sepakbola. Kata-kata tersebut sekaligus cukup merefleksikan bagaimana Riquelme memainkan sepakbola. Riquelme tidak berlari untuk rekor, pencapaian, gol, ataupun pengakuan. Ia adalah manusia yang memainkan sepakbola untuk kesenangan, untuk sekadar bercinta dengan bau rumput, suara pijakan pul sepatu, dan nafas terengah-engah pemain lawan.  Ia adalah pesepakbola yang digambarkan Zen RS sebagai “orang yang sudi pergi ke Jakarta dengan keluar di tol Purwakarta lalu masuk tol lagi di Cikampek dan keluar lagi di Cibubur, lalu bergerak menuju Ciawi guna menghisap sebatang kretek dan menyesap segelas kopi di Puncak Pas, untuk kemudian kembali masuk tol dan bergerak masuk kota Jakarta.” Penggambaran tersebut digunakan Zen untuk menceritakan betapa Riquelme mempunyai caranya sendiri dalam menikmati sepakbola. Ketika Ronaldo dan Messi sedang sibuk melatih diri sendiri guna saling bersaing, meraih pencapaian, gelar, dan pengakuan, di belahan dunia lain Riquelme justru menertawakan keduanya. Bagi Riquelme, sepakbola adalah sesuatu yang harus dinikmati, bukan justru dijadikan beban berlebihan.

Riquelme memang sudah menghilang dari gemerlap panggung sepakbola profesional. Namun, sosok pria Argentina itu akan selalu saya kagumi sampai entah kapan. Juan Roman Riquelme adalah karya sastra abadi yang terlampau indah. Ia adalah buku yang kelewat bagus, yang bahkan ketika saya selesai membacanya, saya jadi kehilangan gairah untuk melanjutkan rutinitas sehari-hari.

There is only one football, there is only one Riquelme.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s