Guardiola Masih Ingin Keras Kepala

Guardiola Menahan Kekecewaan Pada Laga Kontra Leicester Sabtu Kemarin (Foto: Getty)
Guardiola Menahan Kekecewaan Pada Laga Kontra Leicester Sabtu Kemarin (Foto: Getty)

Di tepi lapangan, Jose Pep Guardiola nyaris meledak. Dengan tatapan nanar dan tubuh yang kulai, pria kelahiran Catalonia yang baru akan genap berusia 46 tahun pada Januari depan itu tak bisa menyembunyikan kegetirannya. Rentetan trofi dan reputasi yang ia bawa dari Catalan dan Munich rupanya tak menjamin sang entrenador berjaya di tanah Britania, setidaknya hingga pekan ke-15 Liga Inggris musim ini bergulir. Terakhir, pada akhir pekan kemarin Guardiola harus menelan pil pahit ketika tim asuhannya, Manchester City takluk dengan skor 4-2 di tangan Leicester City, tim mantan juara yang bahkan performanya dalam beberapa pekan terakhir jauh dari kata stabil. Kekalahan tersebut sekaligus memperlebar jarak The Citizens menjadi tujuh poin di belakang Chelsea selaku pemuncak klasemen sementara Liga Inggris.

Tak ada yang aneh dengan permainan Manchester City malam itu. Mereka bahkan sukses menguasai ball posesion sepanjang 90 menit pertandingan. Selisihnya pun tak main-main, 77% berbanding 23%. Soal intensitas serangan, The Citizens tak kalah trengginas jika dibandingkan Leicester. Dalam duel yang berlangsung di King Power Stadium tersebut, David Silva dan kawan-kawan berhasil melesatkan total 19 usaha tembakan ke gawang lawan, sementara Leicester hanya menorehkan 10 tembakan.

Lantas, apa yang salah dengan Manchester City malam itu?

David Silva Terlihat Frustasi di Babak Pertama. (Foto: Carl Recine/Reuters)
David Silva Terlihat Frustasi di Babak Pertama. (Foto: Carl Recine/Reuters)

Kesalahan fatal yang dilakukan The Citizens pada pertandingan tersebut adalah kurangnya upaya untuk membendung aliran bola Leicester. Anak asuh Guardiola hanya mencatatkan 12 upaya merebut bola. Jumlah tersebut berbanding jauh dengan yang dilakukan Leicester, yakni 27 kali upaya tackle. Dan celah fatal ini berhasil dimanfaatkan dengan jitu oleh anak asuh Claudio Ranieri. Jamie Vardy dan para kolega melakukan umpan panjang nan cepat yang berhasil membuat kikuk barisan pertahanan lawan. Umpan panjang dan cepat ini pula yang berhasil mengantar bola ke daerah pertahanan The Citizens tanpa perlu berlama-lama menggumpal di lini tengah. Buahnya pun manis. Tercatat pada 20 menit pertama Leicester telah empat kali melakukan tembakan ke gawang, dan tiga di antaranya berhasil merobek jala Claudio Bravo.

Guardiola tentu sudah menyadari faktor di atas. Namun, nampaknya ia tak terlalu peduli. Faktanya, ketika dimintai keterangan mengenai performa anak asuhnya yang kecolongan tiga gol di 20 menit awal, ia justru berkeras kepala dan secara tersirat mengungkapkan komitmennya untuk tetap dengan gaya permainan seperti sekarang.

“Bola kedua adalah konsep pasti di Inggris ini, di sini mereka banyak melakukan tekel untuk merebut bola. Saya bukan pelatih yang seperti itu, saya tidak memberi latihan merebut bola. Yang saya ingin coba mainkan adalah bermain bagus dan mencetak banyak gol, lebih sering berada di kotak penalti lawan,” ujar Pep sebagaimana dilansir Sky Sports usai laga kontra Leicester.

Ungkapan Guardiola soal tidak memberi latihan merebut bola nampaknya mengindikasikan bahwa ia akan tetap fokus mengembangkan gaya bermain The Citizens yang sekarang, tanpa mengubahnya dari segi cara bertahan. Tapi, walau bagaimanapun Guardiola sedang berada di Liga Inggris, liga yang menuntut cara bermain inovatif, modern, serta tanpa prinsip-prinsip idealis yang kentara. Sejarah pun berkata bahwa setiap pelatih yang berkeras dengan ideologinya sendiri akan selalu gagal meraih kejayaan di Negeri Ratu Elizabeth. Dari Moyes hingga van Gaal, dari Rafa Benitez hingga Kenny Dalglish, sudah berapa banyak pelatih yang gagal di Inggris karena kesetian mereka dengan ideologi bermain masing-masing?

Guardiola pun bukan pelatih kemarin sore. Ia tentu punya alasan tersendiri untuk tetap setia dengan ideologi bermainnya. Yang jelas, publik Inggris dan dunia kini sedang menunggu kelanjutan kisah sang mantan pujaan Camp Nou. Jika berhasil merengkuh trofi EPL, maka ia akan mencatatkan namanya sebagai pelatih berideologi kuat pertama yang sukses menjalani debut (tahun perdana) di Inggris. Namun, bila gagal, publik akan mengingat nama Jose Pep Guardiola sebagai warga negara asing biasa yang pernah nebeng bermukim di Kota Manchester.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s