Belum Saatnya Rambo Pulang

Arsenal FC v Paris Saint-Germain - UEFA Champions League
Aaron Ramsey (Source: Getty)

Bersamaan dengan peluit panjang yang ditiup Mike Jones, sore itu seisi tribun Emirates Stadium tersenyum lega. Laurent Koscielny dan para kolega telah sah mengamankan 3 poin di kandang sendiri. Sepasang gol Alexis Sanchez serta gol ke-9 Theo Walcott musim ini berhasil mengandaskan perlawanan Bournemouth. Skor akhir 3-1 untuk tim tuan rumah.

Usai laga, seiring memudarnya keriuhan di tribun stadion, satu per satu pemain kedua kesebelasan menepi, meninggalkan rumput hijau yang kian kekuningan karena terpaan terik matahari Kota London. Jangankan Gabriel atau Debuchy, sepasang gol Alexis Sanchez bahkan tak membuat pemain berkebangsaan Chile ini betah berlama-lama menahan diri di atas lapangan hijau. Ia segera turun dari panggung, mungkin sekadar memilih merayakan kesuksesannya di ruang ganti.

Sore itu, kalaupun ada nama yang harus disebut karena kebetahannya bertahan di rumput Emirates Stadium, tak ada nama lain yang bisa tercetus selain Aaron Ramsey. Bukan karena perasaan lega terhadap penampilan diri sendiri, Ramsey tak bergeming lantaran merasa kurang puas dengan penampilannya di atas lapangan. Tak hanya menahan diri untuk tetap berada di atas lapangan, Rambo yang baru masuk pada menit ke-75 menggantikan Alex Oxlade-Chamberlain bahkan menyapa bola dan melakukan latihan kecil di atas rumput Emirates. “Aaron Ramsey working hard on his own after the game,” begitu kicau Greg Johnson, reporter Squawka di akun twitternya sambil memposting foto Ramsey yang berlatih sendirian di stadion usai pertandingan tersebut.

ada
Ramsey berlatih seorang diri di Emirates Stadium usai laga Arsenal kontra Bournemouth, 27 November 2016. (Source: Greg Johnson/Squawka)

Apa yang dialami Ramsey memang sebuah pukulan telak, terlebih jika meninjau pencapaian sang kapten timnas Wales bersama The Gunners dalam dua musim belakangan. Keberhasilan Arsenal meraih trofi FA Cup dua musim silam, dan pencapaian tim gudang peluru sebagai runner up Liga Inggris musim lalu memang tak lepas dari sumbangsih sang gelandang serba bisa. Cedera hamstring sempat menghambat kontribusi Ramsey di awal musim ini. Kendati sudah dapat melakoni comeback pada awal Oktober lalu, namun perjalanan Ramsey untuk masuk ke skuad utama Arsenal memang tidak berjalan semulus ekspektasi publik. Beberapa kali Wenger sempat menepikan dan menggantikan posisinya dengan amunisi lain macam Francis Coquelin dan Granit Xhaka.

‘I want to get back in there now, get back into that team – that’s my target: to help this team achieve what we want to achieve this year,” ucap Ramsey kepada awak media menjelang laga Arsenal kontra Bournemouth. Dengan mantap dan yakin, sebelum pertandingan Rambo menjanjikan performa dan kontribusi maksimal. Namun, ia harus menelan pil pahit. Wenger baru memberinya kesempatan bermain pada pertengahan babak kedua, 15 menit sebelum waktu normal usai.

Baru dimasukkan sebagai pemain pengganti memang tak membuat Rambo patah arang. Ia sempat dua kali berusaha melesatkan bola ke gawang Adam Frederici. Sayang, tembakannya di menit ke-86 masih berhasil diblock dengan mudah oleh Steve Cook. Pun dengan usahanya yang masih meleset ketika berusaha memanfaatkan umpan silang Alexis Sanchez di masa injury time. Sore itu Arsenal memang berhasil meraih kemenangan, melalui akun instagram resminya Rambo pun mengaku bahagia menjadi bagian dari kemenangan Arsenal atas Bournemouth. Akan tetapi, tak dapat dinafikkan, fakta bahwa Rambo tetap bertahan di lapangan dan berlatih seorang diri seusai pertandingan tetap saja merupakan suatu gambaran ekspresi ketidakpuasan yang kental. Bukan terhadap tim, namun terhadap diri sendiri yang dirasa belum memberikan kontribusi maksimal. Ramsey paham betul bahwa sebenarnya Ia dapat memberikan kontribusi yang lebih buat baik tim yang mebesarkan namanya tersebut.

Setidaknya, julukan Rambo yang disematkan para gooner kepada Ramsey memang layak dan tak berlebihan. Buktinya, ketika sedang tidak tampil maksimal, Ramsey tak lantas menangis pulang dan kalut dalam rasa kecewa. Ia memilih tegar, sambil menempa diri di panggung yang mulai sunyi. Pulang dan larut dalam ketidakpuasan memang bukan jawaban yang benar atas kegagalan diri dalam menjawab suatu tantangan. Dan sore itu Ramsey menyadarinya, lebih dari siapapun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s