Jika Dadamu Terasa Sesak Karena Kecewa, Marah, dan Benci, Mengapa Harus Mencaci?

OG2OO30.jpg

Belakangan linimasa media sosial saya dipenuhi konten-konten menyoal dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh salah seorang kepala daerah, tepatnya di ibu kota negara kita. Siapa lagi yang dimaksud kalau bukan Ahok.

Seperti yang saya tulis di kalimat awal, saya lebih suka menyebut peristiwa ini sebagai “dugaan penistaan agama” ketimbang “penistaan agama.” Karena walau bagaimanapun, semua peristiwa di atas masih berupa praduga. Bila kita meninjau kembali ucapan kontroversial terkait Surat Al-Maidah ayat 51 yang diluapkan Ahok kepada warga Kepulauan Seribu, memang ada beberapa kerancuan.

Kerancuan ini tak lain dan tak bukan salah satunya muncul karena adanya perbedaan antara ucapan dalam video dengan transkrip yang disebarkan oleh beberapa oknum pengguna media sosial. (tentang kerancuan tersebut, selengkapnya bisa disimak di sini).

Dalam pekembangannya, kemudian muncul dua kubu. Kubu pertama, menganggap apa yang diucapkan Ahok sebenarnya tidak bermaksud merendahkan Al-Qur’an sebagai kitab suci. Kubu ini beranggapan bahwa isu dugaan penistaan agama oleh Ahok sekadar perkara miskomunikasi. Sedangkan kubu kedua, yang didominasi oleh umat muslim, beranggapan apa yang diucapkan Ahok tetaplah sebuah kedzaliman dan sepatutnya ada proses hukum yang berlangsung.

Kubu kedua kemudian menelurkan sebuah gerakan aksi untuk menunjukkan sikap perlawanan dan pembelaan terhadap Al-Qur’an. Aksi yang puncaknya berlangsung pada 4 November kemarin ini awalnya memang berlangsung damai. Tidak-ada tanda-tanda kericuhan dan kekerasan dalam aksi yang juga digawangi oleh banyak pemuka agama dalam negeri ini. Sayangnya, sejurus kemudian terjadi beberapa provokasi yang menyebabkan timbulnya kekerasan, kericuhan, dan bentrokan antara demonstran dengan aparat kepolisian.

Sebagai tipikal orang yang tak mau terlalu repot, saya sendiri sebenarnya tidak ingin bergabung baik ke kubu pertama maupun kedua.

Dan mengamati fenomena di atas dari kejauhan, membuat saya kembali terngiang-ngiang dengan salah satu kisah yang diceritakan oleh salah satu guru ngaji di desa saya dulu. Kisah yang saya maksud tentu adalah kisah di mana Umar bin Khattab menanggalkan kekafirannya dan beralih menjadi umat Nabi Muhammad.

Konon, dulu sewaktu Umar bin Khattab masih menjadi kafir, beliau merupakan salah satu tokoh Quraisy yang paling gencar dan keras memusuhi Islam. Tak hanya menistakan Al-Qur’an, ia bahkan juga sangat membenci Nabi Muhammad, Rasul kita tercinta. Bahkan, Umar juga getol mengancam dan memburu kaum muslim untuk dibunuh. Tak sampai di situ, adik kandung Umar sendiri, Fathimah binti Khattab, yang merupakan seorang muslim tak pernah luput dari kejahatan sang kakak. Dalam suatu riwayat bahkan pernah diceritakan bahwa Umar pernah menganiaya Fathimah sewaktu sedang membaca Al-Qur’an.

Lalu, apa sikap Nabi Muhammad saat itu? Apakah Rasulullah kemudian membalas cacian Umar atau mengajak umat muslim untuk memburu serta membunuhnya?

Jawabnya jelas, TIDAK.

Nabi Muhammad, siang dan malam justru berdoa kepada Allah, mendoakan Umar agar segera mendapatkan hidayah-Nya.

Kemudian, yang terjadi, doa Nabi Muhammad pun dikabulkan. Umar bin Khattab kemudian justru menjadi pemeluk Islam dan menjadi salah satu sahabat yang paling keras dalam membela Islam dan Nabi Muhammad. Cinta Umar kepada Islam dan Rasulullah sungguh luar biasa.

Itulah sepenggal kisah tentang adab berdakwah yang dicontohkan oleh Nabi kita tercinta, Muhammad SAW.

Kembali ke kasus Ahok. Saya rasa, posisi Ahok sekarang tak ubahnya menyerupai posisi Umar sewaktu belum menanggalkan kekafirannya.

Pilihan kini ada di tangan kita.

Apakah kita ingin tetap meneladani Nabi Muhammad, kemudian mendoakan yang terbaik?

Atau justru kita memilih jalan provokasi dan kekerasan, yang sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad?

Apakah kita sudah tidak sudi lagi meneladani Nabi kita sendiri? Apakah kita sudah tidak mencintai lagi Rasulullah junjungan kita yang kelak kita harapkan syafa’atnya di hari akhir? Apakah kita tidak percaya lagi dengan kekuatan doa? Apakah kita tidak percaya lagi akan kekuasaan-Nya untuk memberikan hidayah bagi siapapun yang Dia kehendaki?

Dan bila harus tetap bersikap, saya memilih bersikap seperti Nabi Muhammad.

Allahu yahdi man yasya’u wa yudhillu man yasya’u (sesungguhnya Allah memberikan hidayah kepada orang yang Ia kehendaki).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s