Lokananta, Perjuangan Ibu Musik Indonesia Melawan Zaman

IMG_2415.JPG

Ia masih berdiri tegap di antara hiruk-pikuk dan megahnya gedung-gedung besar di kota Solo. Walaupun tak sekuat dulu, karena perkembangan zaman dan teknologi telah membantu menggerogoti eksistensinya.

Sepenggal bait diatas bukanlah gambaran cerita drama bollywood tentang seorang pemuda yang senantiasa setia menunggu kekasihnya. Bukan pula cerita hikayat tentang seorang Ibu yang dikhianati anaknya, walaupun kisah di atas masih menyangkut tentang sosok ibu. Ibu dari musik-musik di Indonesia, Lokananta namanya.

Lokananta adalah tempat yang menjadi saksi bisu panjangnya perjalanan perkembangan musik nusantara. Bangunan yang berdiri pada tanggal 29 Oktober 1956 tersebut merupakan studio rekaman musik pertama di Indonesia.

Tujuan awal didirikannya Lokananta sebenarnya sederhana, yakni sebagai tempat penggandaan rekaman musik yang akan didistribusikan ke Radio Republik Indonesia (RRI) di seluruh penjuruh negeri Indonesia. Namun, kejayaan di masa lampau berhasil membuat Lokananta memberanikan diri terjun di industri rekaman untuk mengarungi perubahan zaman, yang kemudian berhasil bertahan hingga sekarang.

IMG_2405.JPG

Sejarah

Lokananta didirikan oleh dua orang pegawai RRI, Oetojo Soemowidjojo dan Raden Ngabehi Soegoto Soerjodipoero. “Nama lokananta diambil dari Gamelan Kyai Lokananta. Yang katanya dari kahyangan dan bisa ditabuh sendiri” jelas Bimo Prasetyo Jati selaku marketing dan admin Lokananta.

Studio rekaman Lokananta tercatat telah berhasil mencetak banyak musisi yang pada era mereka masing-masing merupakan musisi papan atas. Sebut saja Gesang, Waljinah, hingga Titiek Puspa. Dengan teknologi yang terhitung canggih untuk ukuran sebelum era reformasi, kala itu Lokananta berhasil mencapai masa kejayanya.

Melawan Zaman

Layaknya seorang ibu, Lokananta memiliki jalan takdir yang berliku-liku. Setelah era kejayaan piringan hitam dan kaset berevolusi menjadi era digital, pesona Lokananta seolah mulai pudar. Para musisi kekinian lebih memilih melakukan kegiatan rekaman dengan teknologi digital yang seringkali dianggap lebih canggih dan modern.

Berhadapan dengan kondisi tersebut, Lokananta yang menolak mati kemudian mencari jalan lain untuk membiayai diri sendiri. Segala upaya dilakukan agar dapat mempertahankan keberadaannya. Mulai dari menjual CD secara langsung, membuka arena futsal, hingga menyewakan sebagian lahan yang tidak terpakai. “Dulu kan pemimpin belum ganti. Jadi, orang-orang yang futsal itu (penyewaan futsal-red) untuk kesejahteraan sini juga, untuk gaji karyawan,” ujar Bimo.

Tidak Sia-Sia

Perjuangan mengharukan Lokananta terbukti tidak sia-sia. Berkat ramainya pemberitaan di media massa, musisi dan kaum muda satu per satu mulai tergugah. Perlahan mereka sadar akan perlunya mempertahankan eksistensi Lokananta sebagai salah satu kepingan penting dalam sejarah perkembangan dunia musik di Indonesia. Puncaknya terjadi pada tahun 2015 ketika Glenn Fredly menggelar konser dengan tajuk Save Lokananta.

Konser ini seolah berhasil membuat masyarakat Indonesia, khususnya warga Solo, semakin tergerak untuk membantu menjaga keberlangsungan Lokananta. Imbasnya, musisi-musisi pun ikut tergugah kesadarannya dan mulai mempertimbangkan Lokananta kembali sebagai salah satu tempat untuk memproduksi karya-karya mereka. Beberapa musisi tersebut antara lain Efek Rumah Kaca, Shaggy Dog, dan lainnya. Pengunjung dari luar kota maupun luar negeri pun kini banyak yang menyempatkan diri berkunjung ke Lokananta untuk menengok kembali karya-karya musisi kenamaan di masa lampau yang kini diabadikan di Museum Lokananta.

img_2381

Kisah Penyelamatan

Selain kisah perlawanan terhadap digitalisasi zaman, Lokananta juga memiliki kisah heroik menyelamatkan aset bangsa Indonesia. Kisah yang dimaksud adalah ketika beberapa tahun lalu Malaysia mengklaim dua lagu asal Indonesia, yaitu lagu daerah Rasa Sayange dan Terang Bulan. Lagu Rasa Sayange digunakan Malaysia sebagai back sound dari salah satu iklan wisata mereka. Sedangkan Terang Bulan digunakan sebagai salah satu lagu kebangsaan.

Kala itu rakyat Indonesia sempat gempar. Banyak dari mereka melakukan gerakan protes baik lewat media sosial, media massa, hingga lewat mulut ke mulut. Gerakan-gerakan tersebut terkesan sia-sia karena pada akhirnya tidak berhasil membuktikan apapun.

Dalam kondisi demikian, Lokananta tanpa diduga berhasil tampil sebagai pahlawan. Lokananta yang telah berdiri sejak tahun 1956 masih memiliki rekaman asli lagu Rasa Sayange dan Terang Bulan. Dua lagu tersebut masih tersimpan rapi di pita master yang ditempatkan di gudang arsip Lokananta. “Pak Kacung Marijan, dari Kemendikbud (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan-red), membawa piring hitam yang ada lagu Rasa Sayange dan Terang Bulan yang ada di pita master. Dibawa ke Malaysia, ‘ini buktinya punya Indonesia’, sudah, Malaysia tidak bisa apa-apa,” terang Bimo.

Lokananta adalah harta berharga yang dimiliki dan menjadi saksi sejarah bangsa Indonesia, bukan sekedar tempat rekaman kuno tanpa esensi. Lokananta juga merupakan penjaga dan penyelamat musik-musik Indonesia.  Pada akhirnya kita semua berharap bahwa Lokananta akan terus bertahan dan ada untuk selama-lamanya. Berharap agar eksistensinya akan terus terjaga ditengah kerasnya terpaan perubahan zaman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s