Jalan Panjang Masjid Idaman

IMG_1884.JPG
MASJID AGUNG – Nampak depan bangunan utama Masjid Agung Al Aqsha yang berlokasi di Jalan Jogja-Solo, Klaten Utara, Klaten, Jawa Tengah.

Pada tahun 2012 lalu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten mengumumkan rencana pembangunan Masjid Agung. Masjid Agung digadang-gadang bakal menggantikan peran Masjid Raya Klaten sebagai tempat ibadah sekaligus monumen bercorak Islam terbesar di Kabupaten Klaten. Meski sempat mendapat kecaman dari berbagai pihak karena dianggap melanggar Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Klaten periode 2010-2015, proyek yang pada tahun perdananya “hanya” dianggarkan senilai 9,5 milyar rupiah tersebut pada akhirnya tetap bergulir.

Prioritas Pembangunan Fasilitas Umum.jpg
DIAGRAM – Prioritas pembangunan fasilitas umum Kabupaten Klaten

Kurang lebih empat tahun telah berlalu. Masih belum terasa tanda-tanda kebaruan yang layak dibanggakan warga Klaten pasca dimulainya proyek pembangunan Masjid Agung bernama Al-Aqsha tersebut. Meski rezim dua periode bupati Sunarna telah berakhir beberapa bulan silam, hingga saat ini crane dan aneka rupa mesin pengangkut masih terlihat sibuk mengantri di kawasan pembangunan. Padahal selama empat tahun belakangan setidaknya uang senilai 60 milyar rupiah dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupatan Klaten telah digelontorkan­. Kondisi ini tentu mengundang tanda tanya besar. Tepat dan efektifkah langkah Pemkab Klaten untuk membangun Masjid Agung Al-Aqsha?

Total Penggunaan APBD Kabupaten Klaten.jpg
INFOGRAFIS – Total Penggunaan APBD Kabupaten Klaten

Sejak awal proyek Masjid Agung terbilang kurang mendapat dukungan dari berbagai pihak. Sebagian bahkan menentang proyek tersebut karena dipandang lebih banyak menimbulkan polemik baru ketimbang solusi atas berbagai problematika yang ada di Kabupaten Klaten. Aliansi Rakyat Anti Korupsi Klaten (ARAKK) adalah salah satu pihak yang sejak awal menentang proyek ini.

“Di daerah Wonosari ada dusun yang tidak memiliki mushala karena warga setempat tidak punya cukup dana untuk membangunnya. Di sisi lain Pemkab Klaten justru membangun masjid yang menyedot dana APBN hingga puluhan milyar. Hal seperti ini seharusnya tidak terjadi.” tutur Koordinator ARAKK, Abdul Muslih (16/03).

Lebih lanjut Muslih juga mengakui bahwa bagaimanapun pembangunan Masjid Agung sudah terlanjur bergulir dan telah mencapai tahap akhir. Ia menghimbau agar seluruh warga Klaten, khususnya para kaum muda agar terus mengawal dan mengikuti perkembangan yang ada.

Islam merupakan agama mayoritas Pulau Jawa, bahkan Indonesia. Menonjolkan ikon “bercorak Islam” kepada pihak eksternal tentu akan menaikkan popularitas suatu daerah. Barangkali pemikiran tersebut yang terlintas di kepala mantan bupati Klaten, Sunarna ketika memutuskan akan membangun masjid Agung Al-Aqsha empat tahun silam. Setidaknya tuduhan ini bisa dipertanggungjawabkan apabila kita meninjau ulang lokasi dimana masjid tersebut dibangun.

peta
GOOGLE MAPS – Denah Masjid Agung Klaten dari pusat kota

Masjid Agung Al-Aqsha Klaten dibangun di pinggir Jalan Jogja-Solo, Klaten Utara. Dari segi city branding bisa dikatakan bahwa pemilihan lokasi sudah tepat. Lokasi tersebut merupakan persinggungan antara pusat kota Klaten dengan perbatasan Surakarta. Orang luar Klaten, khususnya warga Surakarta dan sekitarnya harus melintasi masjid yang konon akan dilengkapi dengan menara setinggi 66,66 meter tersebut apabila hendak bepergian ke Yogyakarta dan sekitarnya. Begitupula sebaliknya. Namun, pemilihan lokasinya terbilang kurang tepat jika ditinjau dari segi fungsi. Walau bagaimanapun tujuan utama didirikannya masjid tersebut adalah sebagai tempat ibadah bagi warga Klaten, bukan sebagai wahana bagi para “musafir” yang melintas. Rasanya akan lebih tepat guna jika Masjid Agung dibangun di sekitar pusat keramaian kota Klaten, misalnya di dekat Alun-alun atau Taman Kota sehingga warga Klaten bisa lebih mudah untuk mengaksesnya.

“Lokasi Masjid Agung yang baru terlalu jauh. Kami para pedagang di Pasar Klaten lebih memilih sholat di Masjid Raya. Lokasinya lebih mudah dijangkau, sehingga kami tak perlu membuang waktu terlalu banyak” – Sarinah (42), pedagang di Pasar Klaten.

Selain Sarinah, banyak pihak lain yang juga merasa tidak diuntungkan oleh proyek pembangunan Masjid Agung Al-Aqsha. Beberapa diantaranya bahkan justru dirugikan. Salah satu pihak yang mengalami kerugian adalah SMA Negeri 3 Klaten. Sekolah yang sudah berdiri sejak tahun 1991 ini harus menerima kenyataan pahit ketika salah satu gedung yang mereka miliki digusur. Penggusuran ini dilakukan menyusul keputusan Pemkab Klaten menggunakan tanah di Gedung Utara SMA Negeri 3 Klaten sebagai lahan parkir dan taman untuk Masjid Agung Al-Aqsha.

IMG_1888.JPG
BEKAS SEKOLAH – Tanah yang dulu menjadi alas beridirinya Gedung Utara SMA Negeri 3 Klaten rencananya akan dibangun menjadi tempat parker dan taman bermain Masjid Agung Al-Aqsha.

Memang pada perkembangannya SMA Negeri 3 Klaten direncanakan bakal mendapat ganti rugi berupa pembangunan gedung baru. Namun harus diakui bahwa aktivitas penggusuran ini secara tidak langsung tetap mempengaruhi proses belajar mengajar yang berlangsung. Rois misalnya. Meski mengaku sudah mulai terbiasa, siswa kelas XI SMA Negeri 3 Klaten ini mengatakan bahwa kegiatan proyek pembangunan Masjid Agung sempat mengganggu proses belajar yang berlangsung di sekolahnya.

“Sekarang sih sudah mulai terbiasa dengan lokasi sementara dan kebisingan di sebelah. Tapi dulu di awal pembangunannya Masjid Agung memang cukup menghambat efektifitas KBM di sekolah.” tutur Rois.

*keterangan: KBM merupakan kependekan dari “Kegiatan Belajar Mengajar”

Proses pendirian Masjid Agung Al-Aqsha juga sempat menimbulkan kontroversi terkait perubahan desain bangunan. Pada awalnya direncanakan masjid tersebut akan dilengkapi menara raksasa setinggi 66,66 meter dengan gardu pandang berada di puncaknya. Namun pada realisasinya gardu pandang hanya diletakkan pada ketinggian 35 meter. Anehnya, perubahan desain menara ini seolah tidak dikomunikasikan terlebih dahulu dengan para anggota Dewan Permusyawaratan Rakyat Daerah (DPRD) Klaten. Keanehan ini pertamakali terbongkar ketika beberapa anggota Komisi III DPRD Klaten melakukan inspeksi mendadak ke lokasi pembangunan pada awal bulan Maret kemarin. Setelah peristiwa inspeksi tersebut, salah satu anggota Komisi III DPRD Klaten Budi Raharjo sempat mengutarakan kekecewaannya di depan awak media.

“Saat pertama pembahasan itu, desain awal dengan yang sekarang berbeda. Mungkin SKPD ada alasan khusus perubahan desain itu. Yang kami sayangkan itu perubahan desain tidak disampaikan ke DPRD. Ini yang membuat kami kecewa” – Budi Raharjo, Anggota Komisi III DPRD Klaten (sumber: solopos.com, 8 Maret 2016)

IMG_1886.JPG
PEMBANGUNAN MENARA – Menara Masjid Agung Al-Aqsha masih dalam tahap pembangunan. Rencananya Menara ini akan dibangun setinggi 66,66 meter. 35 meter bermateri tembok dan 31,66 meter sisa diatasnya direncanakan bermateri baja.

Sementara itu ketika dimintai keterangan pada kesempatan lain, salah satu pekerja bangunan masjid mengaku bahwa sejak awal tidak ada perubahan instruksi dari atasan ataupun Pemkab Klaten.

“Tidak ada perubahan. Memang sejak awal disuruhnya menara dibangun seperti ini”, ungkap salah satu pekerja proyek Masjid Agung Al-Aqsha yang tidak ingin dipublikasikan identitasnya.

Masalah seolah semakin runyam setelah ditemui pula kondisi memprihatinkan di beberapa bagian bangunan Masjid Agung. Beberapa pintu sudah mulai mengalami kerusakan, bahkan ada salah satu pintu di lantai dua yang kacanya pecah. Atap di lantai dua sebagian juga sudah mengalami kebocoran. Pengadaan karpet impor asal Turki yang dulu sempat dijanjikan pun sampai hari ini masih sekedar jadi wacana. Baru-baru ini bahkan diketahui bahwa karpet yang konon bernilai sekitar satu milyar rupiah tersebut belum dimasukkan kedalam daftar pengeluaran di Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (RAPBD) Klaten tahun 2016.

Capture
MEMPRIHATINKAN – Beberapa infrastruktur di Masjid Agung Al-Aqsha mulai mengalami kerusakan. Padahal masjid ini masih dalam tahap pembangunan.

Nasi sudah menjadi bubur, tanah pun sudah jadi bangunan. Tiada guna lagi menyesali pembangunannya yang sudah menelan banyak biaya, waktu serta tenaga. Kini transparansi dan kejelasan adalah harga mati. Warga Klaten perlu transparansi serta kejelasan dari pihak Pemkab Klaten terkait bagaimana dan mau dibawa kemana nasib Masjid Agung Al-Aqsha kedepannya. Terlepas dari segala penentangan, masih terbuka peluang bagi Masjid Agung Al-Aqsha untuk menempatkan dirinya sebagai masjid idaman bagi segenap umat muslim di Klaten. Jangan perpanjang lagi jarak warga Klaten dengan sang masjid idaman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s